Lampu Kuning

Pernah ada sebuah kalimat yang mengatakan “Aku sakit, tetapi ketika aku melihatnya, aku sembuh.”


Dahulu aku menganggap kalimat itu berlebihan, terlalu dramatis dan terkesan dibuat-buat. Namun ternyata, kalimat itu benar-benar dapat hadir dalam hidupku.


Dari yang awalnya tidak saling mengenal, perlahan berubah menjadi seseorang yang begitu dekat.


Seseorang yang kehadirannya terasa seperti pelindung, seakan memiliki sayap yang menaungi dari berbagai hal yang menyakitkan.


Di dekatnya, aku merasa baik-baik saja. Atau setidaknya… aku merasa demikian. Ada kehangatan yang sulit dijelaskan. Seperti menemukan tempat pulang dalam diri seseorang, tempat untuk bersandar tanpa banyak pertanyaan, tempat yang terasa aman tanpa perlu diminta.


Namun di balik itu semua, terdapat sesuatu yang diam-diam menakutkan. Pada saat yang sama, aku menyadari bahwa semua ini juga dapat menjadi sesuatu yang berbahaya.


Bukan karena dirinya, melainkan karena diriku sendiri.


Hatiku lemah bukan karena sedang terluka, melainkan karena terlalu mudah meromantisasi segala hal. Terlalu mudah menjadikan hal-hal kecil terasa begitu berarti.


Dan mungkin, semua ini menjadi semakin rumit karena satu hal. Ia memang baik. Bukan hanya kepadaku, melainkan kepada semua orang. Cara bicaranya hangat, perhatiannya terasa tulus, dan kehadirannya selalu menenangkan bagi siapa pun yang berada di dekatnya.

Di situlah keraguan mulai muncul.

Apakah ini benar-benar sesuatu yang istimewa bagiku? Ataukah ini hanya bentuk kebaikannya yang memang ia berikan kepada semua orang? Apakah ia benar-benar memandangku berbeda?Ataukah aku yang terlalu jauh menafsirkan?


Sering kali aku tidak mampu membedakan antara ketulusan yang benar-benar ditujukan kepadaku dan perasaan yang justru aku besarkan sendiri.

Aku takut… jika pada akhirnya, aku hanyalah seseorang yang terbawa oleh perasaanku sendiri. Aku menyadari hal itu. Oleh karena itu, hingga saat ini aku masih berusaha menjaga batas. Masih menciptakan jarak yang tidak terlihat. Masih berusaha tetap rasional di tengah perasaan yang perlahan tumbuh.


Aku takut jatuh hati.


Bukan karena aku tidak ingin merasakannya, melainkan karena aku takut terjatuh terlalu dalam. Aku takut kenyamanan ini berubah menjadi ketergantungan. Aku takut suatu hari semua ini harus berakhir.


Dan yang paling menakutkan, aku mulai merasa bahwa ia adalah alasan aku bertahan di sini. Seakan aku telah menemukan tempat paling aman di dunia yang tidak selalu ramah.


Namun sampai kapan?


Sampai kapan ia akan tetap menjadi tempat aman itu? Sampai kapan percakapan ini akan terus ada? Sampai kapan aku mampu meyakinkan diri bahwa semuanya akan baik-baik saja?


Apakah akan tiba saatnya semuanya berhenti tanpa aba-aba? Apakah tempat yang selama ini terasa nyaman itu akan hilang? Apakah batas yang selama ini aku bangun akan runtuh begitu saja?

Dan jika itu terjadi, apakah aku akan kehilangan segalanya? Aku tidak mengetahui apakah ini merupakan kebahagiaan atau justru awal dari sebuah luka.


“Kakak, bolehkah aku minta waktunya sebentar lagi?”


Disarankan untuk dibaca sambil mendengarkan lagu ‘Lampu Kuning’ dari Juicy Luicy.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sampai Mati

Aku dan Kamu

Waktu