Sampai Mati

Aku selalu percaya, bahwa setiap kejahatan akan menemukan jalannya untuk kembali.

Begitu pula dengan luka yang ditanamkan seseorang ia tak pernah hilang, hanya menunggu waktu untuk berbalas.

Tapi anehnya, hatiku menolak. Aku tidak rela jika semesta benar-benar menimpakan luka padamu. Meski kau pantas mendapatkannya, meski kau telah menanam duri di dadaku,aku tetap tidak rela.

Mungkin aku bodoh. Atau terlalu cinta. Atau mungkin, aku hanya belum berdamai dengan kehilangan yang kau tinggalkan.

Kau jahat. Kau jahat. Kau jahat. Aku ulang agar semesta tahu, aku tidak sedang berlebihan. Apa yang kau lakukan benar-benar jahat.

Sakit. Sakitnya tak tertulis dalam kamus manusia. Sakit yang tak bisa diterjemahkan oleh bahasa apa pun. Kenapa kau tega?

Kau datang membawa perhatian yang tak pernah aku rasakan sebelumnya, lalu pergi tanpa jejak, tanpa alasan, tanpa penjelasan. Seolah dunia ini hanya milikmu seorang. Kau lupa, di sudut bumi yang sama ada aku, yang pernah kau beri cahaya, cahaya yang kini padam karena tanganmu sendiri. 

Kau merebutnya kembali, tanpa tanggung jawab. Laki-laki jahat.

Datang membawa harapan, lalu menebasnya mentah-mentah, seakan aku ini bukan siapa-siapa.

Kau bahagia di sana, sementara aku berjalan di atas ranjau rasa sakit, yang meledak setiap kali aku mencoba melangkah.

Tak ada kata maaf. Tak ada sesal. Kau bahkan tak menoleh. Tega, sungguh tega, mempermainkan hati putihku.

Jika suatu hari kau berada di posisiku, aku ingin kau tahu rasanya sakit yang membelenggu, menyesakkan, mengoyak setiap sisi tenang dalam dirimu. 

Sakit yang akan tinggal, menetap, dan tak akan pernah bisa kau taklukkan. Bahkan sampai mati.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku dan Kamu

Waktu